Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label uneg-uneg

(A)ku

Suatu yang tak tampak jika tak ada yang menyinari. Bagaimana jika aku terperangkap di dalam aku? Aku yang bukanlah aku yang sebenarnya, apakah sebenarnya arti aku itu? Apakah karena seringnya meng-aku-kan diri tanpa menyadari siapa dan apa aku itu sebenarnya?

Marginal di Sudut Itu

Seperti termarginalkan di sudut jalan itu. Entah di mana sudut bumi, hingga mampu merasa seakan ada ruang untuk sembunyi. Memakamkan segala keburukan hal yang telah dilakukan, melukiskan keindahan memori yang pernah terlewati. Ada ketika sungai itu berhenti mengalir, tergenang dengan air yang tak bersiklus. Entah stagnan, ataukah...Memaknai arus itu  tanpa intervensi, pastilah tak mampu mengelak dari kesusahan. Tapi apakah sulit itu indikasi tak akan mampunya sesuatu? Indikator itu ada pada kekuatan jiwamu. Hingga betapa buruknya merasa termarginalkan itu? Seburuk kerendahdirian yang tak peka akan anugerah selama ini.

Bukan Hanya Soal Logika Tapi Juga Rasa

Logika dan rasa. Teringat suatu kalimat seorang dosen, "Jika otak itu sebagai CPU, lalu di mana letak programmernya?". Selanjutnya dosen itu menambahkan bahwa psikologi sekuler tidak mempercayai hal yang ghaib, sehingga pemahaman mereka hanya berhenti sampai di situ bahwa otak lah pengendali segalanya. Sementara psikologi Islam memahami bahwa otak itu dikendalikan oleh hati.

Seketika Itu

Ku tengok hatiku, kenapa bisu? Tak biasanya berkata, Apa karna tak suka? Ku ambil langkah ke belakang, Balik kanan, lambaikan tangan.   Alasan apa yang harus diutarakan, Jika hati tak bisa dipaksakan? Apa ini tantangan intelektual yang kau janjikan? Pikirku bukan. Biarkan.. Iya biarkan..   Sekadar melihat apa warnanya, tanpa harus ku berkubang ke dalamnya.   Gradasi tetaplah menjadi, Tetapi soal rasa dan logika, Ada kalanya tak saling memahami.   Meski kau katakan aku tak bernyali, Aku tak bisa membiarkan hatiku terus terbebani

Perkenalan dengan PR Week

Seperti bayi yang baru merangkak kemudian disuguhi gejolak dunia di mana ada orang yang berlari kencang bahkan hingga terjatuh, atau berjalan santai bahkan mundur teratur. Kali ini saya anggap sebagai perkenalan dengan dunia public relations yang sebenarnya, dialami oleh pakar PR level internasional. Beliau telah mnyelenggarakan event International Public Relations Summit (IPRS), seorang Humas dari Universitas Trisakti Jakarta. Banyak sekali wawasan yang saya terima, dan di sini saya tak akan bercerita mengenai materi atau bahasan tentang PR itu sendiri, hanya saja saya ingin bercerita tentang kesan saya mengenai 'gilanya' dunia PR itu. Sebagai mahasiswi yang sebentar lagi akan mengambil konsentrasi PR, maka hal seperti ini penting bagi saya sebagai pandangan untuk melangkah ke depan. Betapa nyesek dan rasanya tantangan untuk menjadi PR sejati itu wow banget! Yaa, itu kan cerita beliau yang selama ini berkecimpung di dunia ke-PR-an. Dengan bahasa Inggris yang amat fasih, f...

Coretan Pagi Tanpa Segelas Kopi

Pagi.. tanpa segelas kopi yang kepulan asap dan aroma eksotisnya menyelinap. Hanya ada segelas air putih dan beberapa potong roti. Walau begitupun pagiku tetap miliki euforia tersendiri, tanpa ada stimulus dari kafein. Kali ini aku sedikit terpetakan, masuk ke dalam suatu jurusan yang akan mengantarkan ke tujuan sesiapa yang menjadi penumpangnya. Di dalam perjalanan mestilah disajikan berbagai menu panorama yang menggoda yang pastinya menurut selera masing-masingnya. Hingga aku telah dan tengah berada di sini, mungkin ada sekerdip cahaya yang membuatku selalu ingin mencari tahu di mana sumber cahaya walau hanya setitik di mataku. Apakah sebatas kedipan mata, ah entahlah tapi aku berusaha berjalan melewati sekat-sekat dan bilik yang belum aku ketahui sebelumnya. Ada sesuatu yang menggelitik, namun tak jarang juga ada yang memuakkan hingga membuatku terdampar di ambang kegundahan. Oh, Tuhan.. Oke, satu kunci utama adalah fokus terhadap apa yang aku cintai dan aku pun akan dicinta...

Seongok Nista Menanti Terjawab

Analogi apa yang ku maksudkan dengan kecintaanku terhadap maple dan polaris. Jika harus ku singkap lapis demi lapis langit, akankah ku temui jawabannya? Letak polaris itu, takkan berpindah dan setia menjadi penunjuk arah. Dan polarisku, entah di mana. Bersemayam dalam sudut yang belum terjangkau oleh logika. Bumi dan langit. Hal yang merupakan paradoks sehingga menjadi perbandingan abadi, ataukah yang saling melengkapi. Jika ini berbincang mengenai semiotika, maka makna sebenarnya dari apa yang dituliskan tentulah milik yang menorehkannya. Menjadi beragam makna di setiap kepala, itu hal yang biasa.

Perkenalanku dengan Abu :)

Sebenarnya ini bukan pertama kali aku bertemu dan dapat memandangnya dari dekat bahkan kali ini aku dapat menyentuhnya ;) ... Selama ini aku hanya memandangnya dari layar kaca, seperti itukah. Pertama kali itu saat aku kembali ke kampung halamanku ini, Yogyakarta sekitar Agustus 2013 lalu aku cukup kaget ketika pagi hari selepas melepas lelah semalam aku melihatnya? Wah, ternyata seperti ini! Dan aku pun bercerita kepada teman-teman ku di Banjarmasin tentang pengalaman pertama ku tentang ini. Waaahhh :D

Serumit Kata

Berlalu, hinggap dan terbanglah... Sulit untuk merangkai kata padahal hanya variasi dua puluh enam huruf. Rumitnya kalimat-kalimat yang ingin diungkap tak serumit hati yang berkata apa. Tiada yang pernah tahu apa yang akan dan semua yang telah tersimpan dalam penggalan sejarah. Mengais masa yang telah dilalui serasa memulung kenangan yang selayaknya dipungut dan kenangan yang sedalam-dalamnya dikubur. Apa yang pernah terucap oleh gerak-gerik lidah dan manisnya bibir, ada saja yang bakal kembali kepada tuannya. Apa yang diduga kemarin tak mesti bisa sesuai dengan saat ini. Dan apa yang diasumsikan saat ini tidak mungkin dapat sempurna terjadi di hari esok. Siapa yang tahu? Apa yang sekarang di bawah, adakah jaminan untuk besok akan terus di bawah? Atau bahkan nanti membawahi? Siapa tahu? Yang di atas? Entahlah.... Ah percuma jika hanya kata-kata. Meskipun tak serumit kemarin kemarin kemarin, semestinya ada sesuatu yang lebih lebih dan jauh untuk bisa lebih bukan u...

Dear My Old Diary

Malam ini, saat mendengar lantunan lagu Ada Band ft Gita Gutawa bertemakan tentang ayah, huh sangat berbahaya bagiku! Dan benar saja, lirik-lirik itu menyentuh hatiku dan buliran airmata terjatuh. Tiba-tiba suasana saat ini menjadi melankolis. Baru kusadari, ternyata jarak itu mendekatkan. Jarak itu menambah rasa ridu, sayang dan pengharapan terhadap ayah dan ibu di sana yang belum pernah sebelummnya ku merasakan seperti ini. Kesungguhannya dalam mengabulkan permohonanku, dukungannya, dorongannya, pengorbanannya serta doanya sangat ku rasakan semenjak awal ku membangun impianku. Aku takut untuk membunuh harapan-harapan mereka terhadapku. Aku tak mau kehilangan kepercayaan itu. Begitu banyak impian yang belum ku ceritakan terlebih ku buktikan padanya. Sebenarnya aku sangat malu akan semua ini. Tapi aku tau semua itu perlu proses.

Ini Jogja Lho!

Wah, waah...anak kuliahan semester satu, baru pulang kuliah lebih tepatnya selesai UTS malah nongkrong. Iyaa, nongkrongnya di maal apa coba? Tapi cuma cuci mata trus mampir makan di luar. Toleransinya sih gini, yaah nikmatin dulu kan masih semester awal. wkwkwk.. (catatan : asal jangan lupa sama komitmen lho yah) :) Mendung sepanjang hari nih Jogja, untung tadi pulang ga kehujanan. Kadang tu ya, aku itu kalo lagi pulang kuliah atau lagi jalan itu lupa ini tu Jogja. Aku tu masih mikir Kalimantan..Kalimantan meskipun berbeda. Mungkin aku kangen kali ya. Lalu hatiku bilang, "Sadar woyyy...ini Jogja!". Jleb! Lamunanku hilang. Aku juga kadang masih mikirnya ntar kalo di rumah ketemu Bapak, Ibu, Adik, ealaahhh...ternyata ntar yang ditemuin Bulek dan simbah. Hahaa... Oiya nih, ini Jogja udah mulai hujan, dereeees buanget. Semenjak beberapa bulan, ini hujan sore-sore yang  ga tau berapa kali ya, kyaknya yang kedua deh, selama ini kan Jogja ceria. Ga tau nih sekarang Jogja lagi me...

Tunggu Leda(/e)kan

Bagai mentari yang beku. Panas membara di dalam namun belum mampu meledakkan amarahnya. Entah atas dasar ketidakmampuan apa? Gemeretak gigi terdengar lantang, suara hati membahana, jiwa menggelora biaskan milaran intuisi tak teraba, entah seaneh apa, tapi itulah... Terkadang yang diimpikan terasa memudar seiring atmosfer yang selimuti hari. Namun apa jika impian mimpi ini begitu panas, sepanas bara yang hendak melontarkan bunga-bunga api. Akankah untuk selamanya menjadi raga bagai tak bernyawa?

Me

Aku memulainya dari musim gugur. Maple yang begitu anggun berdiri, rela meranggas demi datangnya salju yang dirindu. Cherry blossom yang tertawa merekah pun ikhlas melepas pakaian indah di setiap rantingnya. Helai demi helai terlepas, melayang...mencium tanah. Pengorbanan fase demi riuh rianya manusia. Aku berfikir andai mereka apatis, warna dunia mungkin tak banyak rupa.

Beku

Dinginnya kutub mungkin tak sedingin hatiku. Di sini aku hanya terdiam dan membisu. Semua telah rekat terpendam begitu dalam. Apa dayaku tuk mengungkapkan, jika semua akibat keterpaksaan jiwa yang meronta agar melepaskannya segera. Tak ada keberanian. Aku berfikir karena ini belumlah saatnya. Adakah sakit yang ku rasa ketika rahasia ini begitu kuat dikunci oleh si pemiliknya? Hati ini serasa terkunci begitu rapat. Sulit bagi orang lain untuk menjelajahi tiap ruang yang ada. Itu semua rahasia antara aku dan Tuhanku.

Robot Bernyawa

Sekilas aneh ya judul kek gitu? ah, apapun itu anggapan orang yang berusaha meruntuhkan langit mimpiku, aku tak peduli! Mungkin secara kasat mata jalan apa yang ku pilih ini penuh kontroversi. Ciee... Sehingga ada teman yang mengisyaratkan bahwa aku ini 'keras', aku tak mampu mengelak. Entah darimana dia mampu menilaiku seperti itu, tapi aku tetap beri dia apresiasi atas kehebatan tebakkannya! :D

See You

Mendung mewarnai kotaku hari ini. Tahukah kau, kalo aku mencintai mendung, kabut dan hujan? Ah, rileks sekali rasanya andai berkeliling tanpa sengatan mentari yang berarti. Dulu aku pikir aku hanya punya dua kaki 'tuk melangkah. Resah, gelisah silih berganti hadir bagai dipanggil berdasarkan absen. Aku lelah! Yaa..lelah sangat!! Semakin jauh ku melangkah pergi, mengarungi jalur mimpi meski tengah sendiri, di satu sisi aku merasa kuat. Di sisi itulah aku menemukan kekuatan itu. Berdiri di atas kaki sendiri tanpa ada bayang-bayang orang lain. Tak usah ada proteksi, karena proteksi Tuhan sangat mencukupi keamanan travelling ini. (eits, time is over! I've to go the course ;D see u....)

Intermezzo

Nah, di sikon yang kayak gini yang aku suka. Sendiri, sunyi, sahabat melancholy instrumentaliaku tengah menemani, dan penuh inspirasi. Aku ingin hidup di malam hari, aku begitu mencintai malamku. Namun, siang tlah banyak merenggut malamku hingga aku mati karenanya.

Keteraturan yang Membelenggu

Kayaknya hampir semua org menginginkan keteraturan dlm hidupnya. Weee...tapi ga selamanya teratur itu bagus (katanya). Whaa....habis baca2 dikit dapet kata2 yg ngegubrak! ^^ Dari SD kita udah diajarin ngegambar, paling pwool utk anak cwe' gambar pemandangan gunung beserta perangkatnya. :D Nyampe SMA bahkan PT pun mgkin tetep istiqomah (ceilee..) dg gambar gunung yg begitu2 aje alias ga kreatif (waah..ngefek gue bgt!)

Today Is,,,

Hari ini lumayan ruwet. Yaa, easy going aja. Kata orang sih, luaskan hati supaya bisa nampung input, kritikan dan saran dari orang lain. Hmm,,, santae aja lah, no body is perfect. Banyakin belajar sama senior. Aku juga bingung, kok semakin hari semangat kompetisiku mulai terkikis. Mungkin apakah karena faktor lingkungan? Hmm, aku pengen bebas, bebas dalam arti yang sesuatu. Aku akan baik-baik saja selama impianku masih hidup mengganggu benakku. Apapun yang orang katakan, takkan merubah apapun terhadap diriku kecuali jika aku membiarkan kata-kata itu merasuk dan menginfeksi jiwaku. Yeah, it's ok! menghitung detik demi detik untuk beranjak ke tempat lainnya lagi menyambung aktivitas di hari ini. Ganbatte kudasai! hehe..kata orang Jepang sih gitu! Kita mesti fokus dan serius dalam setiap hal positif yang kita jalankan agar berhasil!!! Fighting fighting fighting!