Seperti termarginalkan di sudut jalan itu. Entah di mana sudut bumi,
hingga mampu merasa seakan ada ruang untuk sembunyi. Memakamkan segala
keburukan hal yang telah dilakukan, melukiskan keindahan memori yang
pernah terlewati. Ada ketika sungai itu berhenti mengalir, tergenang
dengan air yang tak bersiklus. Entah stagnan, ataukah...Memaknai arus
itu tanpa intervensi, pastilah tak mampu mengelak dari kesusahan. Tapi
apakah sulit itu indikasi tak akan mampunya sesuatu? Indikator itu ada
pada kekuatan jiwamu. Hingga betapa buruknya merasa termarginalkan itu?
Seburuk kerendahdirian yang tak peka akan anugerah selama ini.
~ MEDIA DARLING Seorang tokoh yang berpotensi menjadi pemimpin di negeri ini adakalanya mendapatkan perhatian lebih dari media. Pemberitaan yang positif tentang dirinya dengan intensitas yang di atas rata-rata menghiasi media cetak maupun elektronik memunculkan istilah media darling. Hampir semua media didominasi dengan berita-berita positif tentang dirinya dan hal demikian dapat membesarkan nama seseorang di mata publik. Media darling seringkali diartikan sebagai kesayangan media yang saat ini benar-benar terjadi dalam dunia perpolitikan di negeri ini. Misalnya saja seperti fenomena Jokowi yang dapat dikatakan sebagai kekasih media (media darling). Selain menghiasi media cetak dan elektronik, berita yang bermuatan citra positif tentang dirinya tersebut juga masih didukung oleh pembicaraan di media sosial.
Komentar
Posting Komentar